Desa Unik di Sleman, Warganya Takut Tidur Pakai Kasur, Ini Sebabnya

Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza

ber1ta.com, SLEMAN – Saat memasuki kawasan dukuh Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (25/2/2015) sore, tribunjogja.com (Tribunnews.com Network) disambut oleh anak-anak kecil yang berangkat mengaji dan warga kampung yang duduk-duduk di depan rumah. Sekilas tidak ada yang berbeda antara dukuh Kasuran dengan dukuh lain yang menawarkan keramahan bagi para tamu.

Namun kalau menelisik lebih dalam, ada keistimewaan kampung yang terletak sekitar 5 km di barat Sleman ini. Ternyata, sebagian besar masyarakatnya enggan menggunakan kasur sebagai alas tidurnya. Bahkan ada keyakinan di antara para warga kalau menggunakan kasur akan mendatangkan hal yang buruk.

Keengganan mayoritas masyarakat tak mau menggunakan kasur sebagai alas tidur dan lebih nemilih dipan ataupun lantai ternyata sudah berlangsung sejak sekitar 600 tahun silam.

Kepala Dukuh Kasuran Wartilah (53) yang juga hanya menggunakan dipan tanpa kasur sebagai alas tidurnya menuturkan, awal mula ada aturan tak tertulis dilakukan warganya.

“Dulu di sini bernama dusun Jaron, waktu itu sekitar 600 tahun silam Kanjeng Sunan Kalijaga dalam perjalanannya istirahat di sini tepatnya di rumah seorang warga bernama bapak Djali,” ujarnya mengawali cerita.

Satu dari sembilan Wali Songo tersebut kemudian minta disediakan kasur dan guling dari kapuk kepada tuan rumah. Waktu itu di Jaron juga ada penganut agama lain yang bernama Sonco Ndalu yang tidak suka dengan keberadaan Sunan Kalijaga.

Desa Unik di Sleman, Warganya Takut Tidur Pakai Kasur, Ini Sebabnya | Claudia | 4.5

Leave a Reply