Untuk Sampai ke Tempat Akad Nikah Penganten ini Harus Berbasah-basah Dulu

ber1ta.com.GARUT- Demi cinta, apapun akan dihadapi. Mungkin inilah yang dialami Eka Gunawan (20), pemuda asal Kampung Cibuntu, Desa Tanjungmulya, Kecamatan Pakenjeng.

Demi melaksanakan pernikahan dengan kekasih tercinta di Cicalengka, Kabupaten Bandung, yakni Reni Meilani (20), Eka dan puluhan anggota keluarganya menempuh perjalanan sekitar 120 kilometer, melewati jalan terjal dan curam serta menyeberang Sungai Cikandang dengan rakit.

Pukul 06.00, Eka dan keluarganya sudah basah-basahan karena harus terjun ke Sungai Cikandang dan mengarungi jeramnya menggunakan rakit. Pakaian untuk menghadiri akad nikah pun basah terkena arus sungai.

“Tidak ada pilihan lain, harus lewat Sungai Cikandang kalau mau ke Bandung. Baju basah, nanti juga kering di jalan,” kata Eka sambil menenteng sepatu formal, peci, dan setelan jasnya, setelah sampai di seberang sungai.

Jembatan yang ambruk tahun lalu ini nampaknya telah mengubah banyak hal pada kehidupan warga sekitarnya. Akibat transportasi yang terputus, aktivitas pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lainnya pun harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang memprihatinkan.

Kepala Desa Tanjungmulya, Yusep Kirman, mengatakan pengangkutan barang kebutuhan pokok dan hasil pertanian warga dilakukan melalui rakit. Mulai dari beras, pisang, pakaian, sampai domba dan kambing diangkut menggunakan rakit.

“Motor pun antre untuk diseberangkan menggunakan rakit. Akses ini memang sangat vital bagi kehidupan warga. Walaupun ditarif Rp 5 ribu per orang dan Rp 10 ribu per motor, banyak yang tidak membayar ongkos rakit. Padahal rakit ini ditarik dan dioperasikan menggunakan tenaga banyak orang,” katanya.

Rakit tersebut, katanya, telah hanyut sebanyak dua kali. Bantuan perahu karet yang dijanjikan pemerintah tidak kunjung datang, sejak jembatan ini putus pertama kalinya.

Untuk mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas, warga pun harus menyeberang sungai. Beberapa waktu lalu, katanya, seorang ibu terpaksa melahirkan di pinggir sungai, beberapa saat setelah naik rakit tersebut. Warga sakit pun harus ditandu di rakit.

Setiap pagi, katanya, sekitar 500 pekerja perkebunan menyeberang sungai tersebut untuk bekerja. Kemudian, disusul oleh para pelajar dan warga lainnya. Dalam sehari, katanya, sekitar 1.000 warga menyeberangi sungai tersebut. (Sam)

Untuk Sampai ke Tempat Akad Nikah Penganten ini Harus Berbasah-basah Dulu | Claudia | 4.5

Leave a Reply

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better